Secara gamblang Bu Lies yang ternyata ibu kandungku itu menceritakan asal - usulku yang sebenarnya. Bahwa ayahku bukan lelaki yang bertanggung jawab. Ketika Bu Lies hamil tua, malah minggat dengan seorang cewek muda belia. Dahulu Bu Lies dan Mama tetangga dekat dan masih sama - sama tinggal di Jogja. Pada saat itu keadaan Mama sudah lumayan mapan, sementara Bu Lies hidup pas - pasan. Apalagi setelah ayahku minggat dengan cewek belia itu, Bu Lies harus mencari nafkah sendiri dalam keadaan hamil tua pula.
Karena itu Bu Lies menyandarkan hidup kepada Mama. Saat itu Mama memang bukan orang tajir, tapi kehidupannya jauh lebih baik daripada Bu Lies. Maka terjadilah perjanjian, bahwa kalau bayinya sudah lahir akan diberikan kepada Mama. Tapi biaya melahirkan dan makan sehari - hari Bu Lies ditanggung oleh Mama.
Lalu lahirlah bayi itu yang lalu diberi nama Fajar oleh Bu Lies. Mama senang sekali karena belum punya anak laki - laki, Mama meminta agar Fajar tetap disusui oleh Bu Lies. Sementara diam - diam Bu Lies mendaftarkan diri untuk menjadi TKW di Hongkong, yang kata orang - orang gede gajinya itu. Bu Lies pun terbang ke Hongkong yang dibiayai oleh yayasan yang biasa merekrut para TKW untuk bekerja di luar negeri.
Setelah setahun tinggal di Hongkong, Bu Lies berjumpa dengan seorang pengusaha asal Indonesia yang sudah sukses di Hongkong. Kebetulan pengusaha asal Indonesia itu baru ditinggal mati oleh istrinya.
Kebetulan pula Bu Lies di masa mudanya memang cantik. Pengusaha tajir melilit itu pun jatuh cinta kepada Bu Lies.
Tanpa memandang usia yang berbeda jauh, Bu Lies pun menerima lamaran pengusaha itu. Lalu mereka menikah di Hongkong. Dan tetap tinggal di sana dengan status yang berbeda. Bu Lies bukan TKW lagi, melainkan sudah jadi istri seorang pengusaha besar.
Sepuluh tahun kemudian, suami Bu Lies mengajak pulang ke Indonesia, karena usianya sudah tua sekali dan tidak sanggup mengembangkan usahanya lagi di Hongkong. Katakanlah dia sudah ingin pensiun dari dunia bisnis. Namun simpanannya di bank sangat banyak. Tanahnya pun di pulau Jawa banyak. Ada yang di Jabar, Jateng dan Jatim. Karena itu mereka pulang ke tanah air bukan sebagai panglima yang kalah perang. Karena depositonya di bank saja takkan habis dimakan oleh tujuh turunan.
Setelah berada di tanah air, suami Bu Lies yang sudah tua renta itu pun jadi sering sakit. Dan akhirnya meninggal dunia lima tahun yang lalu. Atas dasar surat wasiat yang ditinggalkan oleh almarhum suami Bu Lies, semua harta dan simpanannya di bank diwariskan kepada Bu Lies semua.
“Begitulah ceritanya, “ kata Bu Lies di akhir penuturannya, “Memang setelah berada di tanah air, aku sering ingat pada anakku. Tapi aku ingin jadi orang yang teguh pada perjanjian. Karena pada saat aku memberikan dirimu kepada wanita baik yang jadi Mama angkatmu ini aku sudah menandatangani perjanjian. Di perjanjian itu tertulis bahwa aku takkan mengganggu gugat anakku di hari kemudian. “
Bu Lies yang ternyata ibu kandungku itu menbghela nafas panjang. Lalu melanjutkan, “Untungnya wanita yang kamu panggil Mama ini bijaksana orangnya. Kalau tadi dia tutup mulut, aku takkan menyangka kalau Fajar itu kamu Bon. Aku sangat menghargai kebijaksanaan mamamu ini. Sehingga aku bisa ditertemukan dengan satu - satunya anak kandungku, yakni kamu Bona. Untuk menghargai kebijaksanaan mamamu ini, aku tidak akan mengganti namamu menjadi Fajar lagi. Biarlah kamu tetap bernama Bona, agar tidak menyakiti hati beliau. Aku pasrahkan masalah Bona ini ke tanganmu Yan, “ kata Bu Lies kepada Mama yang nama lengkapnya Maryani itu.
Mama menjawab lirih, “Aku sangat menyayangi Bona laksana sayangnya ibu kepada anak kandungnya. Tapi hubungan darah di antara kalian berdua tak boleh diputuskan begitu saja. Jadi begini saja ... Bona tetap manggil Mama padaku, lalu kepada Lies mungkin bagusnya manggil Mamie, supaya tidak tertukar - tukar ya. “
“Iya ... iyaaa ... aku setuju itu, “ sahut Bu Lies yang mulai saat ini harus kupanggil Mamie itu.
“Jadi Bona tetap boleh menganggapku mamanya, tapi dia juga haruis menerima bahwa Lies itu mamie kandungnya. Tentang di mana Bona mau tinggal, bebas sajalah. Mau ke rumahku di Subang ... pintu rumahku tetap terbuka sampai kapan pun buat Bona. Mau tinggal di sini apalagi, karena dia punya pekerjaan pula di sini kan ?”
Mamie memegang bahuku sambil bertanya lembut, “Keinginan Bona sendiri bagaimana ?”
Spontan kujawab, “Pokoknya aku sayang keduanya, baik kepada Mama mau pun kepada Mamie. Malah semakin menyenangkan karena mulai saat ini aku jadi punya ibu dua orang. Heheheee ... “
“Iya ... kami berdua sayang kamu Bon, “ kata Mamie alias Bu Lies, “Ohya ... sekarang Yani mau nginep di sini kan ?” Mamie menatap ke arah Mama.
“Sayang sekali ... sekarang sih aku gak bisa nginap Lies. Kapan - kapan deh aku sengaja nginap di sini, biar kita bisa ngobrol panjang lebar. “
“Memangnya ke Subang mau naek apa ?” tanya Mamie.
“Dari Solo ada bus yang lewat Subang Lies. “
“Mmmm ... begini aja, “ kata Mamie, “Sekarang anterin Mama ke Subang, ya Bon. “
“Iya Bu, eh Mamie, “ sahutku.
“Waduh ... dari sini ke Subang itu jauh sekali Lies. “
“Nggak apa - apa. Yang penting Bonanya sanggup kan ?” Mamie menoleh padaku.
“Sanggup Mamie. “
“Sebentar ... aku mau ngomong dulu sama Bona ya Yan, “ kata Mamie.
“Silakan, “ sahut Mama.
Lalu Mamie memijat tombol lift sambil memegang pergelangan tanganku. Pintu lift terbuka, aku dan Mamie masuk ke dalamnya. Kemudian lift itu bergerak ke lantai tiga.
Di kamarnya Mamie memegang kedua tanganku sambil berkata, “Ternyata kita ini ibu dan anak kandung Sayang. “
“Iya Mam. Aku kaget sekali mendengar semuanya ini. Sedangkan kita sudah melangkah begitu jauh. Bagaimana ke depannya nanti ?”
Mamie ma;lah mencium bibirku. Lalu berkata setengah berbisik, “Takdir juga yang membuat kita harus seperti ini. Biarin aja. Kita lanjutkan aja hubungan rahasia kita. Kamu masih mau melanjutkannya nggak ?”
“Mau Mam. Sudah telanjur jauh sih. “
“Bagus. Mamie juga udah telanjur jatuh cinta padamu Sayang. Biarlah kita lanjutkan aja. Tapi awas ... Mama jangan sampai tau ya. “
“Iya Mamie. “
“Sekarang antarkan dulu Mama pulang gih. Mumpung masih siang. Pilihlah mobil mana yang mau kamu pakai. Ingat ... sekarang semua yang kumiliki adalah milikmu juga, karena kamu satu - satunya anak kandungku. “
“Iya Mam. Tapi Mamie masih bisa hamil kan ?”
“Bisalah. Selama belum menopause, berarti perewmpuan itu masih bisa hamil.”
“Lalu kalau Mamie hamil olehku nanti gimana ?”
“Justru itu yang mau kubicarakan denganmu. Tapi besok aja setelah kamu pulang dari Subang, kita bicarakan lagi semuanya secara matang yaaa. Mmm ... Bona ... Bona ... ternyata kamu ini anak kandungku ... tapi aku telanjur jatuh cinta padamu mmmmmwuaaaaah.... “ Mamie mencium bibirku. Lalu mengeluarkan dua gepok uang seratusribuan dari brankas.
Diserahkannya uang itu padaku sambil berkata, “Yang seikat kasihkan sama Mama, yang seikat lagi untuk membeli pertamax dan makan di jalan. “
“Iya Mam. Terima kasih. Tapi Mam ... masih ada yang kuinginkan, “ kataku sambil menyingkapkan daster Mamie, “Pengen megang tempik Mamie dulu ah ... “
Mamie melotot, tapi lalu menahan tawanya. Dan dibiarkannya saja kurayapkan tanganku kebvalik celana dalamnya, lalu mengelus - elus tempiknya sebentar.
Kemudian kukeluarkan lagi tanganku dari balik celana dalam Mamie. “Aku pamit dulu ya Mam, “ ucapku setelah mencium bibir Mamie dengan kehangatanku.
“Iya ... ati - ati di jalan ya Sayang. Gak usah ngebut. “
“Iya Mamie Sayang. “
Kemudian aku dan Mamie masuk ke dalam lift dan turun ke kamarku lagi, di mana Mama masih duduk di sofa kamarku.
“Ayo Mam ... sekarang aja pulangnya mumpung masih siang ?“ tanyaku sambil menyerahkan seikat uang pemberian Mamie, “Ini dari Mamie, “ kataku.
“Iiih banyak banget Lies ?!”
“Ah ala kadarnya aja Yan. Mohon maaf gak disuguhin makan. Tapi Bona udah dikasih duit tuh buat makan di jalan. “
“Iya, terima kasih ya Lies. Kapan mau maen ke Subang ? Aku udah bubar sama suamiku lho. “
“Ohya ?! Kenapa ?”
“Biasa penyakit laki - laki. Maen gila mulu sama cewek yang jauh lebih muda daripada aku. “
“Begitu ya ?! Gak ada mendingnya. Aku pilih yang jauh lebih tua, biar udah kenyang maen perempuan. Tapi ya gitu ... gak ditinggal maen gila sama cewek, tapi ditinggal mati Yan. “
“Gak apa - apa. Kita jalanin aja suratan takdir kita masing - masing. “
“Iya, iyaaaa ... semoga perjalanannya lancar ya Yan. “
“Iya Lies. Aku pamit ya, “ kata Mama sambil cipika - cipiki dengan Mamie.
Beberapa saat kemudian Mama sudah duduk di samping kiriku, dalam sedan Mamie yang sudah kujalankan menuju Solo, kemudian memutar menuju Jogja.
“Bagaimana perasaanmu sekarangf ? Bingung atau gimana ?” tanya Mama.
“Malah jadi plong. Karena Mama bukan ibu kandungku. Jadi aku bebas melakukan apa pun dengan Mama sekarang kan ?”
“Iya. Hihihiiii ... pikiranmu kok malah sama dengan pikiran mama. “
“Berarti Mama juga kangen entotanku lagi kan ?”
“Iyaaa ... lagi hamil gini mama malah pengen begituan mulu. “
“Kalau gitu kita cek in aja di Jogja ... di hotel yang kita pakai dahulu itu Mam. Hitung - hitung nostalgia. “
“Iya. Hotel itu sangat bersejarah bagi kita ya. “
“Mmm ... Mbak Weni, Mbak Rina dan Mbak Lidya pada tau gak kalau aku ini bukan anak kandung Mama ?”
“Nggak ada yang tau. Kan waktu kamu mama terima dari Mamie, mereka masih kecil - kecil. Weni juga baru berumur tiga tahun. Belum ngerti apa - apa. “
“Kalau sudah terbuka gini, apakah mereka bakal dikasihtau atau nggak ?”
“Kasihtau aja. Gak apa - apa. Toh hubunganmu dengan mereka bakal tetap baik. “
“Iya. Aku akan tetap menganggap mereka saudara - saudaraku, “ sahutku dengan pikiran melayang - layang. Teringat apa yang sudah kulakukan dengan Mbak Weni, dengan Mbak Rina dan Mbak Lidya.
Sedan built up Jerman yang kukemudikan ini pun meluncur terus ke arah Jogjakarta.
Ibu lies

Setibanya di hotel yang bersejarah bagiku dan bagi Mama, kami mendapatkan kamar paling belakang. Dan gairahku tak terkendalikan lagi. Mungkin karena aku sudah tahu bahwa Mama itu bukan ibu kandungku. Selain daripada itu Mama sedang hamkil, membuatku penuh kepenasaranan. Seperti apa memek wanita yang sedang hamil itu.
Mama pun tampaknya sudah kangen sekali padaku. Begitu masuk ke dalam kamar hotel, Mama merangkul leherku ke dalam pelukannya. Lalu mencium dan melumat bibirku dengan hangatnya.
Sambil menanggalkan gaun batiknya, Lalu Mama berkata, “Kamu mama urus sejak bayi dengan penuh kasihsayang Bon. Mama sayang sekali padamu, laksana sayangnya seorang ibu kepada anak kandungnya. Tapi sejak kita melakukan semuanya di dalam hotel ini, pandanganku padamu jadi berubah. Laksana memandang seorang pangeran yang datang untuk mengobati luka di hati mama. “
“Aku juga sama Mam. Dan sekarang, setelah aku tau Mama bukan ibu kandungku, aku jadi semakin bergairah lagi ... terlebvih - lebih setelah mendengar Mama sedang hamil ... hihihiiiii ... jadi gemes ... ingin melihat dan merasakan memek wanita hamil ... “
“Jadi biarkan aja janin di perutku ini tetap tumbuh dan membesar nanti ?” tanya Mama sambil melepaskan beha dan celana dalamnya.
“Biarkan saja Mam. Biar nanti aku yang membiayai semuanya. Sekarang statusku kan sudah jelas, sebagai anak tunggal seorang wanita yang berada. “
“Nanti kalau Rina dan Lidya tau, gimana ya ?”
“Biarin aja. Kalau perlu, kuhamili juga mereka nanti. Supaya tidak ada yang complain pada kehamilan Mama. “
“Hihihiiii ... jadi rame dong rumah di Subang nanti. Ada tiga bayi lahir ke dunia. Memangnya kamu bisa memperlakukan mereka sekehendak hatimu ?”
Sambil mengusap - usap perut Mama yang belum kelihatan buncit, aku menyahut, “Bisa Mam. Tapi tentu saja aku takkan sewenang - wenang pada Mbak Rina dan Mbak Lidya. Yang jelas, pada waktu aku diwisuda itu kan mereka datang ke sini. “
“Iya, memang mama yang nyuruh mereka datang untuk menghadiri wisudamu. “
“Nah ... mereka ingin merasakan seperti apa rasanya bersetubuh itu. Lalu mereka menyerahkan keperawanan mereka padaku. Tapi jangan marahi mereka nanti ya Mam. Kalau Mama marahi mereka, bisa - bisa minggat mereka nanti dari rumah. “
“Owh ... begitu ? Mmmm ... mama mau pura - pura tidak tau aja soal itu sih. “
“Itu lebih baik Mam. Tapi pada saat itu mereka sudah menyiapkan pil anti hamil segala. Makanya kalau aku mau menghamili mereka, aku akan melarang mereka memakai pil anti hamil lagi.”
“Menurut mama sih, ide menghamili mereka itu kurang tepat Bon. Kalau masalah mama hamil nanti, mama akan berusaha membuat mereka bisa menerima kenyataan ini. Bahwa mereka akan punya adik baru ... anakmu ini, “ kata Mama sambil mengusap - usap perutnya.
“Iya ... makanya nanti Mama jelaskan saja, bahwa aku ini bukan anak Mama. Dan kita sengaja melakukan hubungan badan, sebagai balas dendam kepada Papa yang main gila terus, “ ucapku sambil menggerayangi memek Mama yang selalu membangkitkan kerinduanku.
Aku mengangguk sambil menjauhkan tanganku dari memek Mama. Kemudian kutanggalkan seluruh benda yang melekat di tubuhku, sampai telanjang bulat seperti Mama.
Lalu aku naik ke atas bed di mana Mama sudah celentang sambil merenggangkan kedua belah pahanya. Tadinya aku ingin mulai dengan menjilati memeknya yang selalu menggiurkan itu ... tembem dan agak ternganga, dengan jengger membuka ke luar pula.
Tapi Mama berkata, “Jangan pake jilat - jilatan memek segala. Ini udah basah sekali Sayang. Belakangan ini memek mama memang sering basah, sambil membayangkan dientot sama kamu lagi. Masukkan aja kontolmu langsung Bona Sayang ... “
Mendengar ucapan Mama seperti itu, aku pun mengikuti keinginannya. Langsung aku tengkurap sambil mengarahkan moncong kontolku ke mulut tempik Mama. Dan ... benar saja. Begitu kudorong kontolku, langsung masuk sekujurnya ke dalam liang memek Mama tercintaku.
“Tuh kan ... langsung ambles semua ... “ ucap Mama sambil merengkuh leherku ke dalam pelukannya.
“Gak apa - apa perutku menghimpit perut Mama begini ?”
“Nggak apa - apa. Masih kecil kok perutnya. Nanti kalau perut mama sudah buncit, tanganmu harus menahan agar perutmu tidak terlalu menghimpit perut mama. Ayo entotin kontolmu Sayang. “
Aku pun mulai mengentot seperti yang Mama inginkan. Memang becek liang memek Mama kali ini. Tapi hal ini justru membangkitkan gairahku untuk melampiaskan kekangenanku kepada Mama yang telah merawatku dari bayi hingga dewasa. Bahkan aku sendiri yang dikuliahkan sampai S1. Sementara anak - anak kandungnya sendiri (Mbak Rina dan Mbak Lidya) hanya memiliki ijazah D3. Sementara Mbak Weni Do sejak semester 3. Bukankah itu berarti betapa Mama menyayangiku dan selalu mengobarkan semangat belajarku agar berhasil mencapai gelar sarjana ?
Karena itu aku ingin sekali membalas kebaikan Mama itu dengan apa pun yang bisa kulakukan.
Mama pun tampak sangat enjoy dengan aksiku kali ini. Mulutku terus - terusan disumpal dengan lumatan hangatnya yang seolah ingin melekatklan bibirnya ke bibirku selama persetubuhan ini berlangsung.
“Bon ... kenapa ya kali ini mama merasa lebih enak disetubuhi olehmu ? Nih ... niiiih ... niiiih Booooon ... ini mama udah mau lepas Boon ... “ desis Mama yang sedang merapatkan pipinya ke pipiku.
Lalu Mama berkelojotan. Entotanku pun sengaja kupercepat, untuk menanggapi situasi seperti ini.
“Booonaaaa .... aaaaaa ... “ mulut Mama ternganga. Nafasnya tertahan. Sekujur tubuhnya mengejang. Perutnya agak terangkat. Dan kubiarkan kontolku menancap di dalam liang sanggama Mama. Liang yang lalu terasa berkedut - kedut kencang. Disusul dengan hembusan nafas Mama, “Aaaaaaaah ... luar biasa nikmatnya Boooon ... “
Kutatap wajah cantik Mama yang tampak memancarkan sinarnya yang begitu cemerlang.
“Kok cepat sekali lepasnya Mam ?” tanyaku sambil mengusap - usap dahi Mama yang keringatan.
Mama menyahut, “Karena Mama terlalu kangen padamu Sayang. Jadi ... entotanmu terasa nikmat sekali. Makanya mama gak bisa bertahan lama. Jangan digerakkan dulu kontolmu ya. Mama ingin menghayati keindahan yang barusan mama rasakan. “
“Iya ... santai aja Mam, “ sahutku sambil memperhatikan handphoneku di atas meja kecil di samping bed yang tengah kupakai menyetubuhi ibu angkatku ini. Aku berusahamenjangkaunya. Dan berhasil.
Ternyata ada WA dari ... Mbak Artini alias tanteku ... !
Kubuka WAnya. Isinya singkat sekali -Sayang ... aku kangen sekali padamu Yang ... -
Aku tercenung sesaat. Lalu meletakkan hapeku di bawah bantal. Tanpa kubalas.
Padahal aku sedang berada di Jogja. Kalau aku mau, dalam tempo 15 menit pun aku sudah bisa tiba di rumah Tante Artini. Memang aku harus memprioritaskan wanita yang satu itu. Karena biar bagaimana, akulah yang telah merenggut keperawanannya.
Tapi dia itu adik kandung Mamie. Berarti dia itu tanteku sendiri.
Lalu apa yang harus kulakukan ? Apakah aku harus menghentikan hubungan rahasiaku dengan ibu kos yang sudah begitu mencintaiku ?
Tidak.
Secara moral aku harus menghentikan hubunganku dengannya. Tapi secara kemanusiaan, aku tak boleh mencampakkannya begitu saja. Aku harus berusaha untuk tetap membahagiakannya. Tapi bagaimana kalau Mamie tahu bahwa aku punya hubungan dengan Mbak Artini ? Apakah Mamie takkan marah ?
Akhirnya aku mengayun kembali kontolku dengan gerakan yang lumayan cepat. Dan berusaha untuk membuat Mama orgasme lagi. Lalu aku akan berpura - pura ejakulasi pada saat dia orgasme nanti. Agar dia mengira telah terjadi pencapaian puncak kenikmatan secara berbarengan. Kemudian aku akan berpura - puramau ke rumah temanku dulu karena ada urusan “penting”. Padahal aku akan menjumpai Mbak Artini di rumahnya ... lalu mengentotnya segila mungkin, agar perasaan kangennya reda. Dan sebenarnyalah aku sendiri pun sudah kangen sekali padanya ... !
Booon ... oooh ... Boooon ... ini sudha mulai enak lagi Saayaaaang ... iyaaaa ... iyaaaa . entot terus Booon ... entot teruuuuussssss ... ini luar biasa enaknyaaaaa ... aaaaaah .... aaaaa .... aaaaah ... “ Mama merintih - rintih sambil berusaha menggoyangkan bokongnya ... memutar - mutar dan meliuk - liuk. Sehingga batang kontolku terasa dibesot - besot oleh liang memeknya yang licin tapi tetap legit ini.
Belasan menit semuanya ini berlangsung. Sehingga wajah dan leher Mama mulai mengkilap oleh keringatnya sendiri.
Sampai pada suatu saat, Mama menatapku sambil berkata terengah, “Sayang ... ooooh ... mama mau lepas lagi Sayaaaang ... “
“Iya Mam ... barengin ya ... aku juga udah mau ngecrot ... “ ucapku berbohong. Padahal aku masih jauh dari ejakulasi.
Lalu kupercepat entotanku, sementara Mama sudah berkelojotan lagi. Dan akhirnya mengejang tegang. Pada saat yang sama kutancapkan kontolku sedalam mungkin.
Lalu ketika liang memek Mama berkedut - kedut kencang, aku pun mengejut - ngejutkan kontolku seolah sedang ejakulasi ... !
Lalu ... aku pura - pura terkulai lemas di atas perut Mama.
“Oooooh ... indah sekali ... “ ucap Mama sambil menciumi bibirku, “Terima kasih ya Sayang. “
Tampaknya Mama tidak menyadari bahwa aku belum ejakulasi.
Lalu kucabut konmtolku dari liang memek Mama. Kemudian turun dari bed dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi sambil menjinjing pakaianku.
Di kamar mandi aku kencing. Lalu kucuci kontolku yang berlepotan lendir memek Mama.
Kemudian kukenakan semua pakaianku. Dan keluar dari kamar mandi.
Kulihat Mama masih terkapar celentang di atas bed. Aku pun mengambil hapku dari bawah bantal, sambil berkata, “Mama bisa ditinggal sebentar di sini ? Aku ada urusan penting yang harus kuselesaikan di Jogja ini. “
“Iya, selesaikanlah urusanmu dulu Sayang. Mama malah ingin tidur dulu, karena masih terasa capek sekali, “ sahut Mama sambil memeluk bantal guling. Dalam keadaan masih telanjang bulat.
Beberapa saat kemudian aku sudah berada di dalam sedan punya Mamie, yang sudah kuluncurkan di jalan aspal. Menuju rumah Mbak Artini ... !
Mbak Artini yang mengenakan daster berwarna pink, tampak sedang menyiram pot - pot tanaman hias yang berderet di teras depan. Dan terkejut ketika melihatku turun dari mobil di dekat teras itu.
“Bona ?!” serunya dengan wajah ceria.
“Iya Tante. Sengaja WAnya tidak kubalas karena tadi aku sedang di jalan menuju ke sini. “
Lalu aku mengikuti Mbak Artini, melangkah masuk ke dalam rumahnya. Di ruang tamu, Mbak Artini sudah tak kuasa menahan diri. Ia memeluk dan menciumi bibirku. “Aku kangen sekali padamu, Sayang. “
“Sama ... aku juga kangen sekali. Hanya waktunya belum ada. Ini juga kebetulan sedang disuruh mengantarkan Mama ke Subang. Makanya kusuruh Mama istirahat dulu di hotel, karena aku ingin menjumpai kekasihku yang jelita dan seksi ini, “ sahutku sambil memegang kedua tangan Mbak Artini.
Lalu kami duduk berdampingan di sofa ruang keluarga.
“Mbak sudah mendengar berita dari Bu Lies ?”
“Berita apa ? Belum ada berita apa - apa Sayang. “
“Ternyata Mbak Ar ini tanteku. Karena aku ini anak kandung Bu Lies yang sekarang harus dipanggil Mamie olehku. “
“Haaaa ?! yang bener Sayang ... “
“Betul Mbak. Tanyakan saja langsung pada beliau kalau gak percaya sih. Dahulu sebelum terbang ke Hongkong sebagai calon TKW, Mamie pernah memberikan bayi kepada Bu Maryani. Bayi itu sudah diberi nama Fajar. Nah ... Fajar itu aku Mbak. Tapi sama Bu Maryani namaku diganti jadi Bona Perdana. “
“Ooooh ... iyaaaa ... iyaaaa ... ! Saat itu Mbak Lies masih sengsara hidupnya. Suaminya menghilang pula entah ke mana. Iya, iya ... aku masih ingat benar masalah itu Bon. “
“Jadi Mbak ini sebenarnya tanteku. Tapi hal itu jangan dijadikan kendala hubungan di antara kita berdua. Hubungan kita harus jalan terus ya Mbak. “
“Iya sih ... oooh ... ini bnenar - benar mengejutkan Bon. Tapi aku sudah telanjur cinta berat padamu Sayang. Meski pun kita tidak boleh menikah, tapi hubungan kita harus tetap jalan ya Bonaku Sayang. “
“Iya Mbak. Nanti deh kalau sedang banyak waktu kita rundingkan lagi masalah hubungan kita ini, “ ucapku sambil merayapkan tanganku ke balik daster pink Mbak Artini. Sampai menemukan celana dalam. Dan kuselinapkan tanganku ke balik celana dalam itu. Sampai menemukan celah memek Mbak Artini yang seharusnya kupanggil tantge Artini ini. “Jadi aku harus manggil apa nanti sama Mbak ya ? Manggil Tante atau Bulik ?”
“Aaaah ... soal panggilan sih jangan dipikirin. Apa aja ... mau manggil Mbok juga boleh. Hihihiii ... “
“Hush. Masa Mbok ? Emangnya Mbak bakul jamu ? Kalau kita sedang berdua aja, aku mau akan tetap manggil Mbak aja, tapi kalau ada orang lain mau manggil Tante ya. “
“Iya, iya. Terserah kamu aja Sayang. Yang penting cintaku jangan dicampakkan begitu saja. Bisa bunuh diri aku nanti kalau ditinggalkan olehmu. “
“Gak mungkin Mbak. Biar bagaimana Mbak ini sosok penting bagiku. Pertama, Mbak telah menyerahkan kesucian Mbak padaku. Kedua, aku takkan mungkin berjumpa dengan ibu kandungku kalau tidak ada Mbak. “
“Hmmm ... Mbak Lies pasti sayang sekali padamu setelah tau siapa dirimu ya ?”
“Iya, beliau sangat sayang padaku Mbak. Tapi nanti kalau ada telepon dari Mamie, jangan bilang Mbak sudah tau dariku. Jangan bilang juga kalau aku datang ke sini. Karena Mamie menyuruhku mengantarkan Mama pulang ke Subang. Bukan untuk menemui Mbak ... eh Tante ... “
“Hihihiii ... jadi aku jatuh cinta pada keponakanku sendiri ya ?” ucap Tante Artini sambil mencubit pipiku. Sementara jemariku mulai menyelundup ke dalam celah memek di balik celana dalam dan daster pinknya, “Ooooh ... Booon ... kalau sudah dicolok - colok gini aku langsung horny berat Boon .... “
“Ayo kita main. Kontolku juga udah ngaceng berat nih ... “ sahutku sambil mengeluarkan tanganku dari balik celana dalam dan daster pinknya.
Tante Artini bangkit berdiri sambil menarik pergelangan tanganku. Lalu mengajakku masuk ke dalam kamarnya.
Di dalam kamarnya, Tante Artini melepaskan daster dan behanya. Celana dalamnya pun ditanggalkan. Sehingga tubuh tinggi montoknya menjadi telanjang bulat di depan mataku. Ketelanjangan yang senantiasa menggiurkan dan membangkitkan gairah birahiku.
Aku pun menelanjangi diriku sendiri. Lalu menerkam tubuh putih mulus yang menggiurkan itu, dengan segenap hasrat birahiku.
Untungnya tadi aku berjuang untuk menahan diri agar jangan ejakulasi di dalam memek Mama. Sehingga persetubuhan dengan Mama tadi bisa kuanggap sebagai foreplay belaka.
Kali ini aku benar - benar akan menyetubuhi Tante Artini dan akan dicrotkan di dalam liang memeknya yang tetap masih sempit menjepit ini.
Dengan segenap hasrat birahi kuemut pentil toket Tante Artini yang sebelah kiri, sementara tangan kiriku mulai meremas toket kanannya. Suhu badan Tante Artini pun mulai menghangat.
Terlebih setelah mulutku melorot turun ke arah pusar perutnya. Kujilati pusar perutnya sebentar, kemudian melorot turun lagi sampai mulutku berhadapan dengan memek tembemnya yang sangat indah dan tampak sedang tersenyum manis itu.
Sepasang paha putih mulus itu pun merenggang. Dan dengan lahap kujilati memek tembem yang bentuknya sangat indah itu.
Tante Artini mulai menggelinjang ... menggeliat - geliat erotis, dengan desah - desah nafasnya yang sudah lama kurindukan, “Aaaaaah ... Boooon... aku tetap cinta kamu Sayaaaang ... berat sekali cintaku ini padamu Bonaaaa ... aaaaa ... aaaaaah ... jangan terlalu lama jilatinnya ... aku sudah merindukan kontolmu Sayang ... rindu sekali pada kontoool kamuuuuu .... “
Aku pun hanya sebentar menjilati memek dan itil tante Artini. Lalu kuletakkan moncong kontolku di ambang mulut tempik tembemnya. Dan kudorong dengan sekuat tenaga.
Blesssssss .... kontolku melesak masuk sedikit demi sedikit ke dalam liang tempik yang luar biasa sempitnya ini.
Sesaat kemudian aku mulai mengentot tanteku yang usianya cuma beda enam tahun denganku ini.
Rintihan - rintihan histeris Tante Artini p;un mulai berkumandang di dalam kamar ini.
“Booonaaaa saayaaaang .... aaaaaaah .... aaaaaaa .... aaaaaah ... Boooonaaaaa ... aku makin cinta padamu Sayaaaang ... oooooohhhhh .... aku sudah sangat merindukan semuanya ini ... aaaa ... kontolmu selalu membuatku merinding dalam nikmaaaaat ... aaaaaaa ... aaaaah ... entotlah aku sepuasmu sayangkuuuuu ... aku cinta kamuuuu ... aku sayang kamuuuu ... entoooot terus sepuasmu Saaaayaaaaang ...iyaaaa... iyaaaa... iyaaaa... entooooot teruuuuusssssss ... “
Post a Comment